![]() |
| Gbr. Salah satu sesi panel dalam rakerwil Arsada Jateng 2013 |
setiap perjalanan panjang menuju cita-cita, selalu dimulai dengan satu langkah kecil...
Labels
- Gangguan Kesehatan (5)
- Ibar-ibar (8)
- Kebijakan (24)
- Kesehatan (13)
- Kirana (4)
- Kuliner (1)
- Lain-lain (4)
- Leadership (7)
- Manajemen Pelayanan Kesehatan (15)
- Motivasi (7)
- Perjalanan (2)
- Psikologi (1)
- Puskesmas (16)
- Tokoh (1)
- Training (5)
- Tulisan Ringan (5)
Friday, March 22, 2013
RAPAT KERJA WILAYAH ASOSIASI RUMAH SAKIT DAERAH INDONESIA (ARSADA) PROVINSI JAWA TENGAH
Friday, November 11, 2011
HARI KESEHATAN NASIONAL KE-47 TAHUN 2011
Wednesday, August 25, 2010
SUSAH MENOLAK COKLAT?
Siapa yang bisa menolak minuman coklat panas di saat hujan deras begini? Sebagian lagi mengeluhkan
sulitnya stop makan cokelat. Hanya orang dengan niat nekat diet ketat saja yang mampu menolak makanan ini. Benarkah?
Ternyata, memang tidak ada makanan yang dapat menggantikan keinginan untuk makan cokelat, kecuali cokelat itu sendiri. Demikian Elisabeth Somer, MA RD, penulis buku "Food & Mood: The Complete Guide to Eating Well and Feeling Your Best". Dalam sebuah studi, penggemar cokelat diberi cokelat susu, cokelat putih, atau bubuk cokelat. Ternyata yang dirasakan dapat benar-benar menggantikan cokelat adalah cokelat susu.
Kegemaran akan makanan tertentu ditimbulkan oleh keseimbangan zat-zat kimiawi dalam otak yang disebut neurotransmitter. Dan cokelat tampaknya mempengaruhi hampir semua reseptor otak, sehingga keinginan untuk makan makanan yang satu ini biasanya sangat sulit ditahan.
Makan coklat tidak akan menimbulkan kecanduan, tetapi bagi sebagian orang rasa coklat yang enak mungkin menyebabkan kerinduan untuk mengkonsumsinya kembali. Ini yang disebut chocolate craving. Dampak coklat terhadap perilaku dan suasana hati (mood) terkait erat dengan chocolate craving. Rindu coklat bisa karena aromanya, teksturnya, manis-pahitnya dsb. Hal ini juga sering dikaitkan dengan kandungan phenylethylamine (PEA) yaitu suatu substansi mirip amphetamine yang dapat meningkatkan serapan triptofan ke dalam otak yang kemudian pada gilirannya menghasilkan dopamine. Dampak dopamine adalah muncul perasaan senang dan perbaikan suasana hati. Phenylethylamine juga dianggap mempunyai khasiat aphrodisiac yang memunculkan perasaan seperti orang sedang jatuh cinta (hati berbunga). Konon Raja Montezuma di jaman dahulu selalu mabuk minuman coklat sebelum menggilir harem-haremnya yang berbeda setiap malam. ;)
Selain itu, cokelat juga mengandung theobromin Dan kafein, yang akan memacu enerji dan menimbulkan efek terjaga. Jadi, kalau sedang lemburan dan ngantu-ngantuk, bolehlah secangkir minuman coklat atau sepotong permen coklat sebagai dopping. :D
Dari penjelasan diatas, jelaslah bahwa semakin keras Anda berusaha menjauhi cokelat, justru semakin besar keinginan untuk mengkonsumsinya.
Lalu benarkah coklat harus dihindari? Coklat membahayakan kesehatan seperti kata orang selama ini? Ada benarnya, ada juga tidaknya.
Kata coklat berasal dari xocoatl (bahasa suku Aztec) yang berarti minuman pahit. Ini merujuk kepada rasa asli biji coklat yang sebenarnya pahit akibat kandungan alkaloid, tetapi setelah melalui rekayasa proses dapat dihasilkan coklat sebagai makanan yang disukai oleh siapapun. Biji coklat mengandung lemak 31%, karbohidrat 14% dan protein 9%. Protein coklat kaya akan asam amino triptofan, fenilalanin, dan tyrosin.
Di Amerika Serikat konsumsi coklat hanya memberikan kontribusi 1% terhadap intake lemak total sebagaimana dinyatakan oleh National Food Consumption Survey (1987-1998). Jumlah ini relatif sedikit khususnya bila dibandingkan dengan kontribusi daging (30%), serealia (22%), dan susu (20%). Lemak pada coklat, sering disebut cocoa butter, sebagian besar tersusun dari lemak jenuh (60%) khususnya stearat. Tetapi lemak coklat adalah lemak nabati yang sama sekali tidak mengandung kolesterol. Untuk tetap menekan lemak jenuh agar tidak terlalu tinggi, ada baiknya membatasi memakan cokelat hanya satu potong saja per hari.
Telah lama diketahui bahwa stearat adalah asam lemak netral yang tidak akan memicu kolesterol darah. Mengapa? Stearat ternyata dicerna secara lambat oleh tubuh kita dan juga diabsorpsi lebih sedikit.
Sepertiga lemak yang terdapat dalam coklat adalah asam oleat yaitu asam lemak tak jenuh. Asam oleat ini juga dominan ditemukan pada minyak zaitun. Studi epidemiologis pada penduduk Mediterania yang banyak mengkonsumsi asam oleat dari minyak zaitun menyimpulkan efek positip oleat bagi kesehatan jantung.
Kalau memang coklat baik untuk kesehatan, lalu seberapa banyak kita boleh mengkonsumsi coklat? Tidak ada anjuran gizi yang pasti untuk ini, namun demikian makan coklat 2-3 kali seminggu atau minum susu coklat tiap hari kiranya masih dapat diterima. Prinsip gizi sebenarnya mudah yaitu makanlah segala jenis makanan secara moderat. Masalah gizi umumnya timbul bila kita makan terlalu banyak atau terlalu sedikit (kekurangan).
Hanya saja coklat perlu diwaspadai, khususnya bagi orang-orang yang rentan menderita batu ginjal. Konsumsi 100 g coklat akan meningkatkan ekskresi oksalat dan kalsium tiga kali lipat. Oleh karena itu kiat sehat yang bisa dianjurkan adalah minumlah banyak air sehabis makan coklat.
Belum ada bukti bahwa coklat menyebabkan timbulnya jerawat.Masalah yang ditimbulkan oleh coklat adalah adanya penambahan gula dan susu yang berlebihan dalam mengolah coklat. Jadi, untuk mendapatkan efek positif dari coklat, pilihlah coklat yang dengan gula dan susu paling minimal. Biasanya adalah jenis dark chocolate.
Thursday, July 8, 2010
COUPLES THERAPY UNTUK LANSIA
Banyak perubahan yang terjadi pada seseorang saat memasuki usia lanjut (lansia), terutama dalam bentuk dan posisi tubuh maupun struktur tubuh. Misal, lansia sering terlihat lebih pendek karena pengaruh struktur dan posisi tulang belakang yang mengalami osteoporosis.
Selain anatomi, para lansia juga mengalami beberapa penurunan fungsi. Diantaranya adalah penurunan fungsi sirkulasi darah dan pernafasan permenit dan lain-lain yang dihubungkan dengan faktor degenerasi.
Lalu bagaimana dengan fungsi seksual pada usia lanjut? Sebuah study yang dilakukan oleh Edward M. Brecher menunjukkan, adanya penurunan aktivitas seksual baik pada pria maupun wanita, seiring dengan meningkatnya usia. Beberapa faktor penting yang menentukan aktivitas seksual saat seseorang berusia lanjut, diantaranya adalah :
1. Penurunan fungsi fisik.
2. Keberadaan dan ketertarikan terhadap pasangan.
3. Tingkah laku serta pengharapan tentang seks di usia lanjut.
Produksi testoteron yang makin merendah mulai usia 40 tahun, berkurangnya struktur dan fungsi organ pada seorang pria, merupakan salah satu penyebab terkait penurunan fungsi seksual pria. The Kinsey Institute, melaporkan adanya perubahan gairah seksual pada seorang pria berkaitan dengan usia. Pada lansia, waktu ereksi dan orgasme menjadi lebih lama. Perlu stimulasi langsung pada seseorang untuk bisa ereksi, berkurangnya semen yang dikeluarkan saat ejakulasi, ereksi tidak padat (rigid), testis yang tidak bisa terangkat setinggi scrotum, kontraksi orgasmus yang kurang kuat, berkurangnya rasa perlu untuk ejakulasi saat seks dan periode refrakter (periode setelah ejakulasi ke ejakulasi selanjutnya) menjadi lama, adalah beberapa hal yang mereka laporkan.
Secara psikologis, stigma tentang seks pada lansia juga menjadi penghalang bagi perilaku seksual mereka. Misal, adanya anggapan bahwa seks hanya untuk kaum muda. Seks pada lansia dianggap menjijikkan dan anggapan bahwa lansia yang tertarik dengan seks hanya untuk pelepas birahi. Padahal, seharusnya tidak demikian.
Oleh sebab itu, selain obat-obatan dan pemberian hormon, sangat perlu terapi psikologi untuk mengembalikan fungsi seksual pasangan lansia. Terapi ini berkembang dengan nama couples therapy. Yakni suatu terapi psikologis yang diperuntukkan bagi pasangan lansia. Fokus terapi ini adalah untuk mencari adanya ketidakpuasan dan dan distress (tekanan) dalam hubungan suami istri. Juga untuk memberi saran dan mengimplementasi rencana pengobatan.
Terapi ini ada beberapa jenis, yaitu :
1. Psycoanalitical couples therapy.
2. Object relations couples therapy.
3. Egoanalitic couples therapy.
4. Behavioral marital therapy.
5. Integrative behavioral couples therapy.
6. Cognitive behavioral marital therapy.
7. Emotionally focused therapy.
8. Structural strategic marital therapy.
Terapi ini dapat membantu orang yang memiliki keluhan intimasi seksual dan komunikasi dengan pasangannya utamanya tentang seks. Tujuannya adalah untuk memperbaiki atau mengurangi gejala dan mengembalikan hubungan ke tingkat fungsional yang lebih sehat. Nantinya diharapkan akan didapatkan hasil yang menguntungkan buat pasien. Seperti hilangnya dan dapat dikendalikannya perilaku simptomatik yang buruk, perbaikan interaksi pasangan yang lebih sehat, dan hasil akhinya adalah meningkatkan fungsi seksual seseorang di usia lanjut.
Tertarik lebih lanjut? Hubungi androlog terdekat di kota anda! :D
Oleh-oleh dari PIT PANDI-PERSANDI 2010 di Surakarta
KETAGIHAN SEKS
Paula Hall, seorang terapis asal Inggris, mengatakan bahwa satu dari 20 orang menderita sex addict (ketagihan seks). Sangat banyak dan mengejutkan! Bahkan ada lagi yang mengatakan bahwa sex addict telah menjadi ciri peradaban saat ini. Mengerikan bila ini memang benar.
Ketergangantungan seks sebenarnya hanya salah satu dari sekian jenis ketergantungan, seperti ketergantungan zat psikotropika, minuman keras, rokok dan sebagainya yang lebih dulu akrab di telinga kita. Hanya ketergantungan seks lebih “susah disembuhkan” sebab akar penyebabnya serringkali bukan seks itu sendiri.
Kapan manusia mengenal ketergantungan seks? Jawabannya bisa sepanjang pengetahuan manusia tentang seks itu sendiri. Ketergantungan seks memiliki siklus mirip lingkaran setan yang selalu berulang. Siklus berawal dari pikiran (everything starts in the mind), kemudian ke tahap fantasi, ritual, tindakan dan penyesalan. Tapi kemudian dia akan kembali berpikir tentang seks dan siklus akan berulang.
Adapun karakter orang dengan ketergantungan seks diantaranya adalah :
1. Peselingkuh (berselingkuh dan berhubungan seks dengan banyak orang).
2. Eksibionisme (suka memamerkan alat vital).
3. Terlalu sering melakukan masturbasi.
4. Secara rutin “bertelepon seks”.
5. Secara rutin membuka situs-situs porno.
Kebanyakan para pengidap ketergantungan seks menjadikan hubungan seks sebagai pelarian masalah. Oleh karena itu, penyelesaiannya adalah dengan mencari akar masalahnya dan menyelesaikannya. Kunci utamanya ada pada pengendalian diri dan cara melihat suatu masalah. Bagi yang merasa ada ciri-ciri di atas dan mulai memasuki siklus adiksi, belum terlambat untuk menghentikannya.
Sumber : Intisari, Juli 2010
