Friday, September 24, 2010

Sepuluh Kata Einstein Untuk Berhasil

1. Follow Your Curiosity : Ikuti Instinc Keinginantahuanmu.

Einstein said : "I have no special talent. I am only passionately curious."
Maksudnya : saya tidak mempunyai sebuah bakat. Saya hanya bergairah pada ketidaktahuan.


2. Perseverance is Priceless : Ketekunan Tidak ternilai.

Einstein said : "It's not that I'm so smart, it's just that I stay with problems longer."
Artinya : saya tidak terlalu smart/cerdas, saya cuma betah dengan berbagai masalah dalam waktu yang lama (jangan menyerah).


3. Focus on the Present : Fokus pada masa kini.

Einstein said : "Any man who can drive safely while kissing a pretty girl is simply not giving the kiss the attention it deserves."
Maksudnya : Kita gak bisa mengerjakan sesuatu pada saat bersamaan. Tapi kerahkanlah seluruh tenaga kita pada apa yang sedang kita kerjakan saat ini.


4. The Imagination is Powerful : Imajinasi adalah kekuatan.

Einstein said : "Imagination is everything. It is the preview of life's coming attractions. Imagination is more important than knowledge."
Maksudnya : Imajinasi adalah segalanya. imajinasi merupakan gambaran dari apa yang akan terjadi di masa depan. Imajiasi lebih penting dari ilmu pengetahuan.


5. Make Mistakes : Membuat Kesalahan.

Einstein said : "A person who never made a mistake never tried anything new."
Maksudnya : Seseorang yang tidak pernah membuat kesalahan tidak pernah mencoba sesuatu yang baru.


6. Live in the Moment: Hidup di saat ini.

Einstein said : "I never think of the future. It comes soon enough."
Maksudnya : saya tidak pernah berfikir tentang masa depan. Masa depan akan datang dengan segera.
Maksudnya : Cara terbaik untuk mencapai masa depan adalah dengan mengerahkan semua usaha kita untuk mengerjakan apa yang kita lakukan sekarang.


7. Create Value : Membuat sesuatu yang bernilai.

Einstein said : "Strive not to be a success, but rather to be of value."
Maksudnya : Berusahalah untuk tidak menjadi sukses, tetapi berusahalah untuk menjadi yang bernilai.


8. Don't Expect Different Results : Jangan Mengharapkan hasil yang berbeda.

Eisntein said : "Insanity doing the same thing over and over again and expecting different results."
Maksudnya : Kegilaan adalah mengerjakan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda.


9. Knowledge Comes From Experience : Ilmu pengetahuan berasal dari pengalaman.

Einstein said : "Information is not knowledge. The only source of knowledge is experience."
Maksudnya : Informasi bukanlah ilmu pengetahuan. Sumber dari ilmu pengetahuan adalah pengalaman.


10. Learn the Rules and Then Play Better : Pelajari aturan" dan mainkan dengan lebih baik.

Einstein said : "You have to learn the rules of the game. And then you have to play better than anyone else."
Maksudnya : Kamu harus belajar aturan-aturan permainan. Dan kamu harus bermain lebih baik dari orang lain.

Thursday, September 23, 2010

Tak Pernah Pupus

Kau rangkum ribuan kata dalam langkah kecilmu

langit hari ini demikian cerah

Tatapanmu tajam pada noktah berlian berkilau di tengah gunung menjulang,

Jalan terjal berliku, kerikil tajam bebatuan licin menghadang

Langkahkan dengan senyum tanpa kegamangan, hai Gadis kecil…!

Diujung lorong panjang gelap selalu ada sinaran cahaya yg hangat

Jangan jadikan cita-citamu sebagai fatamorgana

Bentangkan tanganmu,

Lebarkan langkahmu ’tuk meraih rahmat-NYA.

Tiap tetes peluh bermakna keikhlasan

Saat niat dan tekad berpacu,

Saat langkah dihentakan,

Saat kemauanmu menggebu

Tak akan mampu hujan dan badai menghalangimu

Tak akan mampu ombak tinggi menghempaskanmu

Kau tahu,

Allah Maha Perkasa dan Maha Lembut

Tunduk sujudkan kepatuhanmu pada Jalan Lurus-NYA

DIA,...tempat berserah diri dan mencurahkan segala harapanmu

DIA....tempat kau mengadu ’tuk melepaskan segala kegundahan dan kesulitanmu

DIA....yang ampunan-NYA melebihi siksa-NYA

Hadirkan hasratmu agar selalu bersama-NYA dalam setiap tarikan nafasmu


Kini dalam balutan jilbab putih dan gamis penutup langsing tubuhmu,

dihiasi seuntai kemilau Berlian di leher jenjangmu

Secercah sinar lembut penuh kasih sayang telah mengisi relung hatiku
saling melengkapi menuju bahtera kehidupan yg tak akan pernah pupus,

Segenggam Cinta terikat kuat

Serangkum kasih memadu beriring menuju ridho-NYA

Tuesday, September 21, 2010

Tindakan Kita Sebatas Kita Memandang Dunia


Bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit, dan

tindakan anda pun jadi kerdil. Namun, bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga.

Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan

kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita.

Padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. la hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat, ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.

Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap

diri sendiri. Melampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa

adanya. Dan, dunia pun menampakkan realitanya yang selama ini

tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.

(Sumber : Kumpulan motivasi Andy Muzaki, kiriman seorang teman, thanks)

Jangan Kondisikan Diri Untuk Kalah…


Sebutir telur elang dietakkan di sarang ayam. Telur menetas, dan elang kecil tumbuh dan berpikir dirinya adalah seekor ayam. Sang Elang melakukan apa yang dilakukan oleh ayam-ayam, di lingkungan di mana selama ini dia dibesarkan. Ia mengorek- korek tanah untuk mendapatkan biji-bijian untuk makan. Dia berkotek dan berkokok. Dia tidak pernah terbang lebih tinggi dari beberapa kaki dari tanah sebagaimana yang bisa dilakukan ayam.

Suatu hari, dia melihat sesekor burung elang terbang dengan anggun dan mengagumkan di ketinggian langit terbuka.

Dia bertanya kepada seekor ayam, “Burung apakah yang indah dan mengagumkan itu?”

Sang ayam menjawab, “Itu adalah burung elang. Burung yang gagah dan sanggup terbang sangat tinggi. Tapi engkau tidak akan mampu terbang seperti itu, karena engkau hanyalah seekor ayam.”

Sang elang tidak pernah membuka pikirannya dan percaya bahwa apa yang dikatakan ayam adalah kebenaran. Dia kembali mengkorek-korek tanah, hidup dan akhirnya mati sebagai seekor ayam.

Dia mencabut dirinya dari kenyataan bahwa dirinya adalah seekor elang karena kurangnya visi. Sia-sia! Dia dilahirkan untuk menang, tapi dikondisikan untuk kalah…..

Jangan biarkan orang lain atau situasi atau bahkan diri sendiri membuat kita kehilangan cara pandang kita terhadap diri dan dunia yang luas. Apalagi mengkondisikan diri sendiri sebagai orang yang kalah.

(Sumber : unknown)

SEMBILAN TYPE KEPRIBADIAN ENTERPRENEUR


1. The Improver (ingin selalu memperbaiki)

2. The Advisor (memberi bantuan dan saran berkualitas)

3. The Superstar (dikelilingi oleh kharisma dan energi yang tinggi)

4. The Artis (senang menyendiri, krestivitas tinggi)

5. The Visionary (visi jauh ke depan)

6. The Analyst (penyelesaian masalah dalam suatu cara yang sistematis)

7. The Fireball (hidup, penuh enerji dan optimisme)

8. The hero (kemauan dan kemampuan tinggi dalam memimpin)

9. The Healer (bersifat pengasuh, penjaga keharmonisan, memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa dan “menyembuhkan”)

OBESITAS PADA WANITA MEMPENGARUHI DAYA INGAT!


Sebuah penelitian baru dari North Western Medicine, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kelebihan berat badan di pinggul pada wanita tua bisa memperburuk kemampuan daya ingat.

Dari studi ini ditemukan bahwa setiap kenaikan BMI (Body Mass Indeks) satu poin pada wanita, akan menurunkan skor daya ingatnya satu poin. Daya ingat di sini dinilai dengan menggunakan MMMSE (Modified Mini-Mental Status Examination) yang memiliki skor sampai 100 poin.

Wanita dengan bentuk tubuh seperti buah pir lebih banyak mengalami penurunan daya ingat dan fungsi otak dibandingkan wanita dengan bentuk tubuh seperti buah apel. Hal ini diduga berkaitan dengan jenis lemak yang disimpan di sekitar pinggul dan pinggang. Lemak yang berbeda melepaskan sitokin yang berbeda dan memiliki efek yang berbeda pula terhadap resistensi insulin, pembentukan lemak dan tekanan darah. Sitokin adalah hormon yang dikeluarkan oleh sel lemak tubuh dan dapat menyebabkan peradangan.

Yang pasti, lemak berkontribusi untuk pembentukan plak di pembuluh darah arteri yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer dan aliran darah ke otak menjadi terbatas.

Sumber : Ethical Digest, September 2010

PONSEL SEBABKAN TINNITUS?


Ponsel atau handphone kini seakan-akan sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Di berbagai tempat, baik di kota maupun di pedesaan, kita dengan mudah bisa menemukan orang membawa ponsel. Mulai dari anak kecil sampai orang tua.

Disamping manfaatnya, perlu juga diwaspadai efek samping dari ponsel. Penggunaan ponsel secara teratur selama empat tahun dapat meningkatkan resiko dua kali berkembangnya tinnitus kronis (suara berdengung terus-menerus/mendesing di telinga). Dan ini bisa sangat mengganggu.

Tinnitus bukanlah penyakit. Tinnitus adalah gejala yang dihasilkan dari berbagai penyebab yang mendasari. Penyebab umumnya meliputi infeksi telinga, masuknya benda asing atau lilin di telinga, alergi hidung yang mendorong cairan lilin telinga dan cedera.

Kasus tinnitus kronis terus mengalami peningkatan, saat ini prevalensinya di negara maju adalah antara 10 – 15%. Ada beberapa faktor yang diduga memicu timbulnya tinnitus ini, seperti yang telah disebutkan di atas.

Walaupun belum ada bukti kuat untuk saat ini, sebuah studi kecil yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Medical University of Vienna, Austria, menunjukkan bahwa pasien yang telah menggunakan ponsel sebelum timbulnya tinnitus, 37% lebih besar kemungkinannya mengalami kondisi tersebut (tinnitus kronik) dibandingkan dengan kelompok pembanding. Mereka yang menggunakan ponsel rata-rata sepuluh menit sehari, 71% lebih besar kemungkinannya mengalami tinnitus kronik. Sementara yang menggunakan ponsel di kedua telinga selama empat tahun atau lebih, beresiko mengalami tinnitus kronik dua kali lipat.

Meskipun penelitian ini dinilai masih jauh dari tuntas dan membutuhkan penelitian lebih lanjut, tapi hasil sementara ini ada perlunya untuk membatasi intensitas penggunaan ponsel. Misalnya, dengan memperpendek durasi penggunaannya. Hal ini karena menelpon selama dua menit saja diketahui adanya perubahan aktivitas elektrik alami otak sampai satu jam kemudian. Pembatasan terutama ditujukan pada anak-anak. Pengaruh dapat menembus jauh lebih dalam karena tengkorak mereka masih berkembang.

Sumber : Ethical Digest, September 2010

Wednesday, August 25, 2010

SUSAH MENOLAK COKLAT?

Siapa yang bisa menolak minuman coklat panas di saat hujan deras begini? Sebagian lagi mengeluhkan

sulitnya stop makan cokelat. Hanya orang dengan niat nekat diet ketat saja yang mampu menolak makanan ini. Benarkah?

Ternyata, memang tidak ada makanan yang dapat menggantikan keinginan untuk makan cokelat, kecuali cokelat itu sendiri. Demikian Elisabeth Somer, MA RD, penulis buku "Food & Mood: The Complete Guide to Eating Well and Feeling Your Best". Dalam sebuah studi, penggemar cokelat diberi cokelat susu, cokelat putih, atau bubuk cokelat. Ternyata yang dirasakan dapat benar-benar menggantikan cokelat adalah cokelat susu.

Mengapa hampir semua orang suka coklat?

Kegemaran akan makanan tertentu ditimbulkan oleh keseimbangan zat-zat kimiawi dalam otak yang disebut neurotransmitter. Dan cokelat tampaknya mempengaruhi hampir semua reseptor otak, sehingga keinginan untuk makan makanan yang satu ini biasanya sangat sulit ditahan.

Makan coklat tidak akan menimbulkan kecanduan, tetapi bagi sebagian orang rasa coklat yang enak mungkin menyebabkan kerinduan untuk mengkonsumsinya kembali. Ini yang disebut chocolate craving. Dampak coklat terhadap perilaku dan suasana hati (mood) terkait erat dengan chocolate craving. Rindu coklat bisa karena aromanya, teksturnya, manis-pahitnya dsb. Hal ini juga sering dikaitkan dengan kandungan phenylethylamine (PEA) yaitu suatu substansi mirip amphetamine yang dapat meningkatkan serapan triptofan ke dalam otak yang kemudian pada gilirannya menghasilkan dopamine. Dampak dopamine adalah muncul perasaan senang dan perbaikan suasana hati. Phenylethylamine juga dianggap mempunyai khasiat aphrodisiac yang memunculkan perasaan seperti orang sedang jatuh cinta (hati berbunga). Konon Raja Montezuma di jaman dahulu selalu mabuk minuman coklat sebelum menggilir harem-haremnya yang berbeda setiap malam. ;)

Selain itu, cokelat juga mengandung theobromin Dan kafein, yang akan memacu enerji dan menimbulkan efek terjaga. Jadi, kalau sedang lemburan dan ngantu-ngantuk, bolehlah secangkir minuman coklat atau sepotong permen coklat sebagai dopping. :D

Dari penjelasan diatas, jelaslah bahwa semakin keras Anda berusaha menjauhi cokelat, justru semakin besar keinginan untuk mengkonsumsinya.

Lalu benarkah coklat harus dihindari? Coklat membahayakan kesehatan seperti kata orang selama ini? Ada benarnya, ada juga tidaknya.

Kata coklat berasal dari xocoatl (bahasa suku Aztec) yang berarti minuman pahit. Ini merujuk kepada rasa asli biji coklat yang sebenarnya pahit akibat kandungan alkaloid, tetapi setelah melalui rekayasa proses dapat dihasilkan coklat sebagai makanan yang disukai oleh siapapun. Biji coklat mengandung lemak 31%, karbohidrat 14% dan protein 9%. Protein coklat kaya akan asam amino triptofan, fenilalanin, dan tyrosin.

Di Amerika Serikat konsumsi coklat hanya memberikan kontribusi 1% terhadap intake lemak total sebagaimana dinyatakan oleh National Food Consumption Survey (1987-1998). Jumlah ini relatif sedikit khususnya bila dibandingkan dengan kontribusi daging (30%), serealia (22%), dan susu (20%). Lemak pada coklat, sering disebut cocoa butter, sebagian besar tersusun dari lemak jenuh (60%) khususnya stearat. Tetapi lemak coklat adalah lemak nabati yang sama sekali tidak mengandung kolesterol. Untuk tetap menekan lemak jenuh agar tidak terlalu tinggi, ada baiknya membatasi memakan cokelat hanya satu potong saja per hari.

Telah lama diketahui bahwa stearat adalah asam lemak netral yang tidak akan memicu kolesterol darah. Mengapa? Stearat ternyata dicerna secara lambat oleh tubuh kita dan juga diabsorpsi lebih sedikit.

Sepertiga lemak yang terdapat dalam coklat adalah asam oleat yaitu asam lemak tak jenuh. Asam oleat ini juga dominan ditemukan pada minyak zaitun. Studi epidemiologis pada penduduk Mediterania yang banyak mengkonsumsi asam oleat dari minyak zaitun menyimpulkan efek positip oleat bagi kesehatan jantung.

Kalau memang coklat baik untuk kesehatan, lalu seberapa banyak kita boleh mengkonsumsi coklat? Tidak ada anjuran gizi yang pasti untuk ini, namun demikian makan coklat 2-3 kali seminggu atau minum susu coklat tiap hari kiranya masih dapat diterima. Prinsip gizi sebenarnya mudah yaitu makanlah segala jenis makanan secara moderat. Masalah gizi umumnya timbul bila kita makan terlalu banyak atau terlalu sedikit (kekurangan).

Hanya saja coklat perlu diwaspadai, khususnya bagi orang-orang yang rentan menderita batu ginjal. Konsumsi 100 g coklat akan meningkatkan ekskresi oksalat dan kalsium tiga kali lipat. Oleh karena itu kiat sehat yang bisa dianjurkan adalah minumlah banyak air sehabis makan coklat.

Belum ada bukti bahwa coklat menyebabkan timbulnya jerawat.Masalah yang ditimbulkan oleh coklat adalah adanya penambahan gula dan susu yang berlebihan dalam mengolah coklat. Jadi, untuk mendapatkan efek positif dari coklat, pilihlah coklat yang dengan gula dan susu paling minimal. Biasanya adalah jenis dark chocolate.

Selamat menikmati secangkir minuman coklat panas tanpa cemas..

Disarikan dari berbagai sumber.

Sunday, August 22, 2010

FYI : ASKETISME POLITIK

Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, menyerukan agar para politisi melaksanakan asketisme politik. Lalu apa sih asketisme politik itu? Ada satu artikel di bawah ini yang semoga bisa memberi sedikit gambaran tentang asketisme yang ternyata tidak hanya harus diterapkan dalam kehidupan berpolitik, tapi juga hendaknya dapat mewarnai kehidupan kita sehari-hari.


Asketisme Politik Para Politisi


Oleh: Hajriyanto Y Thohari, MA

KONSEP asketisme (ascetism) memang bisa saja dirujuk ke Max Weber dalam bukunya The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism (1930).

Tetapi dapat juga dirunut dari khazanah sufisme atau tasawuf (mistisisme dalam Islam). Juga, rasanya ada baiknya dalam hidup yang tidak lama (fana)ini kita sesekali menengok khazanah sufisme yang luar biasa kaya dengan tingkat relevansinya yang nyaris abadi dalam kehidupan itu. Istilah asketisme sepadan dengan istilah zuhud (al-zuhd) yang berasal dari khazanah sufisme atau tasawuf.

Kata tasawuf itu sendiri,demikian antara lain menurut Al-Kalabadzi dalam Al-ta’aruf li madzhabi ahli ‘l-tasawuf (1969:6),sebenarnya berasal dari kata al-suf (semacam kain wol yang kasar). Pasalnya, dulu orang-orang yang mempraktikkan ajaran tasawuf itu mempunyai kebiasaan berpakaian wol kasar (al-suf, sehingga karenanya orangnya disebut sufi, atau pengamal tasawuf), sebagai simbol kesederhanaan (antikemewahan).

Walhasil, tasawuf itu sebenarnya dapat juga dibaca sebagai kritik dan protes atas maraknya kemewahan, kemegahan, dan hidup berlebihan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat waktu itu. Inti tasawuf adalah sikap hidup asketis, yaitu meninggalkan kelezatan keduniaan (al-imtimta’ min ladzaidzil dunya) dan menjauhi materi.

Tetapi pada abad-abad berikutnya zuhud atau asketisme itu dipahami sebagai menjauhi dunia dan keramaian,yakni menyepi dan melakukan praktek eskapisme atau alienasi diri dari keramaian dunia sambil melakukan latihan-latihan rohani (riyadhah) dalam rangka untuk menyucikan jiwa. Menurut orientalis Ignas Goldziher, sikap asketis yang ekstrem ini lahir karena perasaan bersalah dan ketakutan yang berlebihan pada siksaan di alam akhirat nanti.

Dalam tulisan ini,istilah asketisme digunakan tidak dalam pengertian menjauhi dunia (politik) secara ekstrem seperti tersebut di atas. Asketisme di sini berarti sikap hidup sederhana, bersahaja (Jawa: prasaja), tidak berlebihan,dan jauh dari sikap hidup berfoya-foya. Asketisme di sini mungkin lebih tepat semacam sikap hidup bersahaja (Jawa: prasaja, sak madyo, dan sak cukupe).

Meskipun mampu untuk hidup mewah, glamor, dan berfoya- foya, tetapi itu tidak dilakukan karena hadirnya kesadaran bahwa sebagai bangsa kita memang masih harus hidup sederhana dan prihatin. Tidak justru hidup ”beringas” tanpa peduli lingkungan sekitar. Sikap hidup beringas ini biasanya dilakukan oleh orang-orang kaya baru (Perancis: nouveau riche).

Khazanah sufisme mengajarkan sikap hidup asketis, bersahaja, sak madyo, kata pujangga Jawa kenamaan, Suryamentaram. Lantas apa yang dimaksudkan dengan asketisme politik dalam tulisan ini? Jawabnya: berpolitik secara bersahaja. Asketisme tidak berarti menjauhi politik, apalagi yang bersifat eskapistis. Sebab eskapisme politik (political escapism), apalagi apatisme politik (political apatism) atau sinisme politik (political cynism), berarti lari dari tanggung jawab.

Para politisi cukup untuk disebut asketis jika dia berpolitik secara bersahaja dan tidak berlebihan, meskipun secara otoritatif mungkin saja dia sangat berhak dan mampu untuk melakukannya. Berpolitik tidak di sembarang tempat dan waktu, tetapi berpolitik secara empan papan. Berpolitik secara asketis dapat diwujudkan dengan tidak menjadikan semua hal sebagai komoditas politik.

Kalau semua hal dipolitisasi atau dimainkan secara politik, itu namanya berpolitik sak kecekele (sekenanya)! Sebagai anggota DPR atau pimpinan partai politik, misalnya, dia bisa saja menjadikan semua hal sebagai komoditas politiknya. Politisi yang memiliki sikap hidup asketis tidak mau melakukan itu karena ingin berpolitik secara empan papan.Tidak semua hal dipolitisasi.

Pasalnya, tidak semua yang bener itu pener (tepat)! Politikus yang tidak memiliki jiwa asketis sangatlah destruktif. Ambisi politiknya menjadi sangat liar. Tidak ada yang dipikirkan dan dikerjakan kecuali bagaimana melakukan muslihat untuk menggoyang kemapanan.

Kerja politik dipahami sebagai menggoyang kemapanan perpolitikan. Setiap hari, isu yang diteriakkan adalah menggoyang kemapanan karena mengira dengan itu semua peluangnya untuk masuk kekuasaan terbuka bagi diri dan kelompoknya. Pertanyaannya kemudian, adakah politikus asketis di sekitar kita dewasa ini? Meski dibandingkan dengan masa-masa sekitar kemerdekaan jumlahnya terus merosot, tetapi melalui interaksi sehari-hari kita bisa menemukannya di sekitar kita.

Mungkin secara persentase atau proporsional sangatlah kecil, apalagi jika dibandingkan dengan kalangan ilmuwan dan intelektual, tetapi secara numerik politikus asketis masih banyak. Mereka bukan hanya ada di parlemen atau partai politik, tetapi juga di pemerintahan. Mereka bukan hanya asketis secara politis, melainkan juga hidup secara asketis. Bahkan, di tengah-tengah rekan-rekannya yang selalu bermanuver politik secara norak dan sak kecekele, mereka tetap saja bersahaja.

Nah, jika jumlah politikus yang memiliki sikap asketis ini semakin besar, baik secara angka maupun proporsi, saya rasa akan besar dampaknya bagi kebaikan bangsa dan negara kita ini: bukan hanya akan mengurangi rasa muak rakyat terhadap politik, melainkan juga meningkatkan rasa respek rakyat terhadap para pemimpinnya karena sama-sama bisa prihatin atas nasib bangsa yang kian terpuruk karena krisis panjang ini.

Dalam konteks Indonesia sekarang ini sampai beberapa tahun mendatang tampaknya sikap hidup asketis semacam itu sungguh sangat diperlukan. Apalagi bagi kalangan para politikus, pejabat negara, dan para elite pemimpin bangsa yang lain. Asketisme relevan pada mereka yang tersebut ini, sebab rakyat kebanyakan by nature memang sudah hidup asketis: menyerahkan soal negara ini kepada para pemimpinnya karena sudah hampir putus asa alias mupus.

Dengan kata lain, rakyat kebanyakan sudah asketis karena terpaksa! Pada saat di mana rakyat sudah menerimakan keadaan ini, sikap hidup asketis di kalangan elite rasanya perlu untuk diamalkan. Tentu,kalau mau! (*)

URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/asketisme-politik-para-po

Hajriyanto Y Thohari, MA
Antropolog dan Pengamat Sosial Keagamaan

Saturday, August 21, 2010

IMO : STRATEGI PENGEMBANGAN PUSKESMAS SEBAGAI UJUNG TOMBAK PENYELENGGARA LAYANAN DASAR TINGKAT PERTAMA DI KABUPATEN BANJARNEGARA



Masalah kesehatan yang utama di Kabupaten Banjarnegara adalah rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari berbagai indikator cakupan hasil kegiatan yang masih di bawah Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang tercantum dalam Rencana Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara tahun 2007 – 2009 dan telah ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara Nomor : 188.4/184. Diantara indikator tersebut adalah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang dari tahun 2007 dan 2008 terus mengalami peningkatan.

Disamping itu, masih adanya kasus gizi buruk sepanjang tahun 2008 sebanyak 282 kasus (0,56%), kejadian keracunan makanan di beberapa wilayah Puskesmas sebanyak delapan kejadian dengan korban kesakitan 81 orang (tidak ada korban meninggal) dan Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue, dimana sudah muncul kasus penularan setempat. Hal-hal tersebut masih diperburuk dengan masih adanya penyakit menular seperti malaria, TBC Pru dan HIV/AIDS. Kerugian ekonomi yang dialami masyarakat karena penyakit-penyakit tersebut sangat besar karena penderitanya, yang sebagian besar usia produktif, tidak dapat bekerja maksimal dan kematian para pencari nafkah yang disebabkan oleh penyakit tersebut berakibat pada hilangnya pendapatan masyarakat.

Rendahnya derajat kesehatan masyarakat tersebut, disebabkan oleh : 1) Rendahnya akses terhadap layanan kesehatan dasar (baik akses terhadap pelayanan maupun akses terhadap program); 2) Rendahnya mutu layanan kesehatan dasar (secara komprehensif yang meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif); 3) Kurangnya pemahaman perilaku hidup sehat (ditunjukkan dengan cakupan PHBS unuk tingkat Paripurna yang baru mencapai 0,45%); 4) Kurangnya layanan kesehatan reproduksi.

Penyebab rendahnya mutu layanan kesehatan diantaranya adalah terbatasnya tenaga kesehatan, kurangnya peralatan kesehatan dan sarana kesehatan. yaang dimaksud dengan terbatasnya jumlah tenaga di sini, disamping karena distribusi yang tidak merata mengenai jenis dan jumlah tenaga di suatu wilayah, juga karena tidak semua tenaga kesehatan memiliki ketrampilan yang sesuai standar minimal yang dipersyaratkan dan komitmen terhadap pekerjaan mereka. Sementara untuk peralatan, obat dan sarana, terutama sarana fisik, sudah cukup memadai.

Menurut data SDKI 2002-2003, masalah utama dalam mendapatkan layanan kesehatan adalah kendala biaya, jarak dan transportasi. Pemanfaatan Rumah Sakit masih didominasi oleh golongan mampu, sedangkan masyarakat miskin cenderung memanfaatkan layanan kesehatan di Puskesmas. Mengingat bahwa pendududk miskin di Kabupaten Banjarnegara masih mencapai lebih dari 40%, maka Puskesmas benar-benar menjadi sarana utama bagi sebagaian besar masyarakat Kabupaten Banjarnegara untuk mendapatkan layanan kesehatan. oleh karena itu, peningkatan mutu layanan kesehatan di Puskesmas menjadi pilihan yang logis untuk dijadikan prioritas kegiatan Dinas Kesehatan. Peningkatan mutu layanan ini termasuk dalam strategi yang lebih luas untuk pengembangan Puskesmas secara keseluruhan.

STRATEGI PENGEMBANGAN PUSKESMAS

Strategi pengembangan Puskesmas yang dilaksanakan, dimaksudkan untuk memberikan wadah bagi Puskesmas untuk mengembangkan diri sesuai potensi masing-masing yang tujuannya adalah peningkatan mutu layanan secara komprehensif (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif) dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip strategi pengembangan Puskesmas. Prinsip-prinsip strategi pengembangan Puskesmas tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar kebijakan pengelolaan Puskesmas dan menjadi salah satu agenda prioritas kegiatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara. Prinsip-prinsip strategi pengembangan Puskesmas yang harus diperhatikn diantaranya adalah :

1. Mengembangakan dan Mengelola Puskesmas Sebagai Pelaksana Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya kesehatan Perorangan (UKP)

Sesuai fungsinya, Puskesmas merupakan lembaga yang bertanggungjawab menyelenggarakan layanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Layanan kesehatan tersebut meliputi Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) sekaligus. Dalam UKP, tujuan utamanya adalah menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan. Layanan perorangan tersebut adalah rawat jalan dan rawat inap. Di UKP lebih ditekankan pada upaya medis teknis. Sementara untuk UKM, tujuan kegiatan yang utama adalah memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit. Layanan ini bersifat publik (public goods). Yang termasuk dalam layanan ini antara lain promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat dan berbagai program kesehatan masyarakat lainnya. Dua tujuan layanan ini apabila tidak dikelola dengan baik, akan timbul permasalahan di belakang hari. Kenyataan di lapangan membuktikan, bahwa semakin maju layanan UKP di dalam gedung Puskesmas, maka layanan UKM banyak yang terbengkalai. Dari permasalahan ini muncul konsep untuk memisahkan antara dua jenis layanan tersebut dalam dua institusi yang berbeda. Contoh untuk pemisahan ini adalah Kabupaten Rembang, dimana untuk pelayanan UKP dan UKM benar-benar terpisah dalam dua lembaga yang berbeda.

Untuk kabupaten Banjarnegara, konsep pemisahan mutlak seperti ini mungkin belum mendesak. Konsep yang lebih cocok dikembangkan adalah pemisahan pengelolaan UKP dan UKM, tetapi masih dalam satu institusi. Pemisahan ini lebih ditekankan pada reformasi organisasi atau restrukturisasi Puskesmas. Konsep Puskesmas Terpadu mungkin perlu kita ingat kembali dan disempurnakan.

2. Mengembangakan dan Mengelola Upaya Pemberdayaan Masyarakat Untuk Kesehatan

Dalam Keputusan menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 tentang Kebijakan dasar Pusat Kesehatan Masyarakat, disebutkan bahwa fungsi Puskesmas adalah sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan pemberian layanan kesehatan strata pertama (primer). Puskesmas memiliki tanggungjawab agar perorangan, terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hdup sehat dengan memperhatikan situasi dan kondisi, khususnya sosial budaya masyarakat setempat.

3. Mengembangkan dan Mengelola Strategi Kompetisi Dengan Layanan Kesehatan Primer Lainnya

Puskesmas bukanlah satu-satunya pemberi layanan kesehatan primer (strata pertama). Di tengah-tengah masyarakat ada banyak pemberi layanan kesehatan primer lainnya yang langsung berhubungan dengan masyarakat, terutama untuk layanan UKP. Di sana ada dokter praktek swasta, bidan praktek swasta, Balai Pengobatan dan Klinik swasta serta rumah sakit baik negeri atau swasta yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat layanan rujukan, tapi sering juga memberikan layanan langsung kepada masyarakat sesuai kebutuhan masyarakat (memberi layanan primer).

Untuk menyikapi ini, karena Puskesmas bukan organisasi yang berorientasi pada keuntungan (finansial), maka Puskesmas harus mampu mengembangkan strategi kompetisi yang sehat, agar layanan puskesmas mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Termasuk dalam hal ini puskesmas harus melakukan “social marketing” untuk memasarkan kegiatan-kegiatannya, terutama kegiatan layanan UKM yang biasanya tidak terlalu digarap serius oleh sektor swasta. Beberapa kegiatan layanan dalam gedung juga memiliki keunggulan. Contohnya adalah kegiatan imunisasi dasar pada bayi. Dibandingkan layanan oleh swasta, Puskesmas memiliki rantai dingin (cold chain) untuk penyimpanan vaksin yang standar yang tidak dimiliki oleh sebagian besar sektor swasta, pemakaian yang sering dan jumlah banyak memungkinkan vaksin di Puskesmas selalu baru. Biayanya juga lebih murah karena merupakan program pemerintah, sehingga pengadaan vaksin dan perlengkapannya mendapatkan subsidi. Tanggung jawab Puskesmas adalah mempertahankan standarisasi tersebut termasuk dalam tindakan pemberian vaksinnya. Ini adalah peluang baik yang dimiliki Puskesmas untuk berkompetisi dengan penyedia layanan primer lainnya.

Disamping dengan sektor swasta, puskesmas juga harus berkompetisi dengan Puskesmas lainnya, terutama di wilayah-wilayah yang saling berbatasan. Untuk ini diharapkan akan ada upaya di tiap Puskesmas untuk meningkatkan mutu layanannya dan setiap Puskesmas diharapkan dapat mengembangkan kegiatan lokal spesifik sebagai ciri khas masing-masing Puskesmas untuk meningkatkan daya saing.

4. Mengembangkan dan Mengelola Kerjasama Dengan Layanan Kesehatan Primer Lainnya

Puskesmas sebagai ujung tombak Pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya merupakan kepanjangan tangan pemerintah untuk menyampaikan dan memberikan program-program layanan kesehatan baik pada perorangan maupun masyarakat. Agar kegiatan-kegiatan tersebut dapat berjalan dan memperoleh hasil seperti yang diinginkan, maka Puskesmas harus membangun kerjasama dengan layanan kesehatan primer lainnya, baik swasta maupun pemerintah. Kerjasama ini penting supaya tidak terjadi perbedaan yang sangat dramatis untuk penanggulangan masalah penyakit atau kesehatan yang akhirnya akan berdampak buruk pada masyarakat. Contoh, Pengobatan Tuberculosis (TBC) dengan strategi DOTs. Sudah terbukti bahwa pengobatan TBC dengan strategi DOTs lebih efektif daripada strategi konvensional. Kombinasi obat dan cara pemberiannya sudah sangat jelas. Angka kesembuhan juga tinggi (lebih dari 90%). Tapi sayang, tidak semua penderita TBC diobati dengan strategi DOTs, terutama mereka yang berobat ke layanan swasta. Pengobatan yang diberikan msih sangat bervariasi, kadang malah sub-standar. Salah satu penyebabnya adalah karena Puskesmas tidak melibatkan layanan swasta dengan memberikan informasi dan fasilitasi sarana (obat) untuk pengobatan penderita TBC dengan strategi DOTs. Aibatnya banyak penderita TBC yang tidak mengalami kesembuhan karena drop out minum obat, bahkan muncul resistensi kuman terhadap obat. Karena itu kerjasama menjadi sangat penting supaya capaian program bisa berhasil.

Kerjasama lain yang harus dikembangkan misalnya dalam hal pencatatan dan pelaporan. Sesuai dengan asasa kerja Puskesmas yang berbasis kewilayahan, maka Puskesmas merupakan penanggung jawab seluruh kegiatan yang berhubungan dengan upaya peningkatan layanan kesehatan di wilayahnya. Selama ini, layanan kesehatan yang dilakukan oleh sektor swasta sering tidak terpantau oleh Puskesmas karena belum ada sistem pencatatan dan pelaporan yang baku dari sektor swasta untuk melaporkan kegiatannya ke Puskesmas. Begitu juga dengan rumah sakit yang tidak melaporkan kegiatannya ke Dinas Kesehatan. hal ini menyebabkan kita banyak kehilangan banyak data yang sangat penting untuk untuk perencanaan kegiatan dan pengambilan keputusan guna menentukan suatu kebijakan. Oleh karena itu kerjasama dalam hal ini perlu ditingkatkan, misalnya dengan menetapkan suatu standar sistem pelaporan tentang kegiatan layanan kesehatan di seluruh wilayah kabupaten.

5. Mengembangkan dan Mengelola Layanan Kesehatan Lokal Spesifik

Penting bagi puskesmas untuk mengembangkan kegiatan lokal spesifik sebagai ciri khas layanan kesehatan Puskesmas tersebut. Layanan yang dikembangkan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat, baik lingkungan geografis, demografis maupun sosial budaya. Ini dimaksudkan agar agar Puskesmas mampu memberikan pilihan kepada masyarakat mengenai layanan kesehatan yang dibutuhkan. Ini juga dapat menjadi nilai lebih untuk meningkatkan daya saing Puskesmas bersangkutan. Contoh kegiatan lokal spesifik yang dapat dikembangkan oleh Puskesmas sangat banyak, diantaranya pada Puskesmas yang kondisi geografisnya sangat rawan terjadi bencana alam (misal : Banjarmengu, Batur, Pejawaran, Kalibening, dan lain-lain) dapat mengembangkan layanan manajemen faktor resiko terutama untuk faktor resiko bencana.

Puskesmas – puskesmas yang kesulitan mengembangkan kegiatan kuratifnya dapat mengembangkan kegiatan promotif preventif sebagai ciri khas layanan kesehatan di Puskesmas tersebut, misalnya Puskesmas sebagai Pusat Informasi Kesehatan yang dapat diakses oleh siapa saja. Puskesmas dapat juga mengembangkan UKBM-UKBM yang ada di wilayahnya menjadi kegiatan andalan dan sebagai bentuk layanan kesehatan yang mengupayakan kemandirian masyarakat di bidang kesehatan.

Puskesmas yang berada di jalur jalan raya yang ramai dan rawan kecelakaan dapat mengembangkan Kegiatan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan yang berbasis masyarakat sehingga dapat mengurani angka kesakitan dan kematian karena pertolongan awal yang tidak tepat. Puskesmasnya sendiri dapat mengembangkan diri sebagai layanan dasar untuk Trauma Center.

Masih banyak kegiatan lain yang dapat dikembangkan oleh Puskesmas sesuai kreativitas dan inovasi masing-masing, tanpa meninggalkan aturan yang berlaku. Dengan begitu, Puskesmas akan memiliki satu bentuk layanan kesehatan yang khas yang dibutuhkan oleh masyarakat dan diharapkan masyarakat akan mengenali Puskesmas tersebut dengan bentuk layanan khas yang dimilikinya, tanpa meninggalkan peran puskesmas secara utuh.

6. Mengembangkan dan Mengelola Layanan Rawat Jalan dan Rawat Inap Untuk Penyakit/Kondisi Kesehatan Kronik dan Akut

Adanya perubahan yang pesat terhadap teknologi membawa dampak besar tehadap perilaku sosial budaya masyarakat, yang imbasnya adalah perubahan pola penyakit di masyarakat. Bila pada awalnya UKP Puskesmas dirancang untuk menangani masalah kesehatan atau penyakit akut di masyarakat, saat ini harus mulai memberikan porsi yang lebih besar untuk masalah kesehatan atau penyakit kronik karena epidemiologi penyakit sekarang mulai bergeser, dimana kasus penyakit kronik mulai meluas dan penyakit akut belum hilang. Hal ini menjadi beban ganda untuk penanggulangan penyakit di masyarakat.

7. Mengembangkan dan Mengelola Pembiayaan Upaya Kesehatan Perorangan, Masyarakat dan Manajemen Keuangan

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa salah satu penyebab rendahnya derajat kesehatan masyarakat adalah masalah rendahnya akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang bermutu. Akses yang dimaksud di sini adalah biaya, jarak dan transportasi. Biaya untuk mendapatkan layanan kesehatan masih merupakan masalah, terutama untuk masyarakat miskin. Sampai saat ini jumlah masyarakat miskin di Kabupaten Banjarnegara masih di atas 40%, dari jumlah tersebut belum seluruhnya memiliki Kartu Jaminan Layanan Kesehatan dari pemerintah (Jamkesmas). Dana pemerintah daerah yang disediakan untuk mendukung layanan penduduk miskin non kuota (yang tidak memiliki Jamkesmas) masih jauh dari kebutuhan. Sehingga masyarakat miskin semakin tidak mampu mengakses layanan kesehatan dari sisi biaya. Dengan model pembayaran langsung (out of pocket) untuk layanan kesehatan seperti sekarang ini, hanya mereka yang memiliki uang sajalah yang mampu mendapatkan layanan kesehatan setiap saat mereka membutuhkan. Di lain pihak, masyarakat belum terbiasa menabung untuk dana cadangan apabila sewaktu-waktu membutuhkan layanan kesehatan. terutama untuk masyarakat miskin yang untuk memenuhi kebutuhan dsasarnya saja sudah sangat kesulitan.

Karenanya, puskesmas sebagai tempat utama masayarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan, harus memikirkan bagaimana kelompok ini dapat tetap memperoleh layanan kesehatan. tentu saja ini bersama-sama dengan Dinas Kesehatan dan seluruh stake holder untuk memfasilitasinya. Berbagai bentuk dana sehat yang ada di masyarakat mungkin perlu diaktifkan kembali dan dikoordinir pelaksanaannya supaya lebih bisa menjamin keterjangkauan seluruh masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan, baik UKP maupun UKM. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) dapat dijadikan salah satu upaya dan bila perlu dengan mewajibkan seluruh masyarakat untuk ikut serta di dalamnya. Kewajiban tersebut dimaksudkan untuk menjamin adanya risk dan cost sharing bagi upaya layanan kesehatan di seluruh lapisan masyarakat, baik miskin maupun kaya.

Dari sisi keuangan Puskesmas, juga perlu adanya pengelolaan yang menjamin seluruh kegiatan puskesmas dapat terakomodasi dan mendapatkan pendanaan secara efisien. Sebagaimana kita ketahui selama ini, bahwa kecenderungan Puskesmas dalam mengelola keuangan lebih banyak untuk sektor kuratif dan sangat minim untuk kegiatan promotif maupun preventif. Hal ini tentunya harus dibenahi agar UKP dan UKM bisa berjalan seimbang.

Adanya ketentuan bahwa pendapatan Puskesmas ditarget untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga menimbulkan kefrustasian di kalangan Kepala Puskesmas beserta seluruh karyawannya bila tidak berhasil mencapai target. Seakan-akan ada aturan tidak tertulis bahwa pencapaian target pendapatan merupakan tolok ukur keberhasilan suatu Puskesmas, sehingga Puskesmas berlomba-lomba meningkatkan upaya kuratif yang di Puskesmas merupakan “sumber pendapatan” dan melupakan upaya UKM-nya.

Pendapatan yang didapat Puskesmas selanjutnya disetor seluruhnya ke kas daerah. Puskesmas dapat meminta pengembalian dari setoran tersebut untuk kegiatan dengan mengajukan Rencana kegiatan yang prosesnya cukup memakan waktu. Akibatnya banyak kegiatan yang terpaksa tertunda karena dana belum turun, padahal kegiatan tersebut mendesak untuk segera dilaksanakan. Sehingga muncul pemikiran Puskesmas Swakelola atau barangkali bahkan Puskesmas bisa dijadikan Badan Layanan Umum (BLU), sehingga kebutuhan dana untuk operasional dapat langsung dikelola sendiri oleh Puskesmas dari pendapatan yang masuk.

8. Mengembangkan dan Mengelola Mekanisme Monitoring dan Evaluasi Layanan Kesehatan Primer Melalui Supervisi Suportif

Rendahnya mutu layanan kesehatan juga sangat dipengaruhi oleh kurangnya pembinaan dari pihak-pihak terkait terhadap pemberi layanan kesehatan, dalam hal ini seharusnya Dinas kesehatan dapat menjadi Fasilitator dan koordinator. Harus ada suatu mekanisme monitoring dan evaluasi untuk menjamin seluruh komponen dalam sistem kesehatan dapat berjalan optimal. Supervisi suportif dapat dikembangkan untuk kegiatan penguatan sistem monitoring dan evaluasi ini.

Dinas Kesehatan tidak mungkin dapat menjangkau seluruh pemberi layanan kesehatan di wilayahnya. Karena itu, Puskesmas juga harus dilibatkan dalam kegiatan pelaksanaan supervisi suportif ini terhadap jaringan pemberi layanan kesehatan di wilayahnya. Kegiatan supervisis ini juga dapat melibatkan organisasi profesi yang memahami standar inerja untuk tenaga kesehatan tertentu. Hal-hal yang akan dijadikan standar penilaian dalam kegiatan supervisis dikomunikasikan dan disepakati terlebih dahulu oleh supervisor maupun pihak-pihak yang akan disupervisi. Penilaian yang dilakukan bukanlah mencari kesalahan pihak yang disupervisi, tapi lebih ke arah identifikasi masalah dan alternatif solusinya, dimana alternatif solusi yang dimunculkan melibatkan pihak yang akan disupervisi secara penuh. Dengan cara demikian, diharapkan pemecahan masalah berjalan optimal karena menyesuaikan dengan pihak yang disupervisi.

Kegiatan supervisi ini sebaiknya dilakukan secara terpadu dan dilakukan oleh tenaga khusus yang terlatih yang memang bertugas untuk itu. Jadi, bukan oleh tenaga di Dinas Kesehatan atau Puskesmas yang bersifat sampingan. Dengan adanya supervisi terpadu dan pelaksanaannya khusus, maka diharapkan kegiatan supervisi dapat lebih fokus dan tercapai tujuannya. Hasil dari supervisi tersebut kemudian dijadikan bahan evaluasi untuk rencana tindak lanjut yang bersifat terus-menerus dan berkesinambungan untuk perbaikan.

Dengan adanya strategi pengembangan Puskesmas yang dilaksanakan secara terencana dengan baik, diharapkan revitalisasi Puskesmas yang diharapkan akan segera terwujud. Di masa mendatang, Puskesmas benar-benar menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat dan bukan lagi menjadi pilihan karena tidak ada pilihan lain. Semoga.