Showing posts with label Leadership. Show all posts
Showing posts with label Leadership. Show all posts

Friday, September 24, 2010

Orang Besar Berpikir Besar


Anda besar dengan berpikir besar. Anda kecil bila berpikir kecil.

Keterbatasan anda adalah pikiran anda. Mimpi dianugerahkan agar anda

bisa berpikir besar. Maka bermimpilah menjadi besar. Mulailah dari pikiran

anda.Keberhasilan semata-mata bagaimana anda meletakkanya dalam

pikiran. Tidak ada yang salah pada lingkungan sekitar. Tidak pula salah

pada waktu anda. Semua memberikan tempat dan kesempatan bagi anda

untuk meraih keberhasilan.Tinggal anda mengambil langkah pertama,

yaitu berpikir besar.

Tak ada yang salah pada katak yang merindukan bulan. Tak ada yang

salah pada kera yang ingin menjadi dewa. Tak ada yang salah dari katak yang ingin jadi lembu. Jangan hiraukan ucapan orang lain. Bergaullah dengan orang-orang yang berkepribadian besar.

Perlakukanlah diri anda dengan penuh rasa hormat, maka orang lain akan

menghormati anda sebagai orang besar.

(Sumber : Kumpulan motivasi Andy Muzaki kiriman seorang teman, thanks)

Tuesday, September 21, 2010

SEMBILAN TYPE KEPRIBADIAN ENTERPRENEUR


1. The Improver (ingin selalu memperbaiki)

2. The Advisor (memberi bantuan dan saran berkualitas)

3. The Superstar (dikelilingi oleh kharisma dan energi yang tinggi)

4. The Artis (senang menyendiri, krestivitas tinggi)

5. The Visionary (visi jauh ke depan)

6. The Analyst (penyelesaian masalah dalam suatu cara yang sistematis)

7. The Fireball (hidup, penuh enerji dan optimisme)

8. The hero (kemauan dan kemampuan tinggi dalam memimpin)

9. The Healer (bersifat pengasuh, penjaga keharmonisan, memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa dan “menyembuhkan”)

Sunday, August 22, 2010

FYI : ASKETISME POLITIK

Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, menyerukan agar para politisi melaksanakan asketisme politik. Lalu apa sih asketisme politik itu? Ada satu artikel di bawah ini yang semoga bisa memberi sedikit gambaran tentang asketisme yang ternyata tidak hanya harus diterapkan dalam kehidupan berpolitik, tapi juga hendaknya dapat mewarnai kehidupan kita sehari-hari.


Asketisme Politik Para Politisi


Oleh: Hajriyanto Y Thohari, MA

KONSEP asketisme (ascetism) memang bisa saja dirujuk ke Max Weber dalam bukunya The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism (1930).

Tetapi dapat juga dirunut dari khazanah sufisme atau tasawuf (mistisisme dalam Islam). Juga, rasanya ada baiknya dalam hidup yang tidak lama (fana)ini kita sesekali menengok khazanah sufisme yang luar biasa kaya dengan tingkat relevansinya yang nyaris abadi dalam kehidupan itu. Istilah asketisme sepadan dengan istilah zuhud (al-zuhd) yang berasal dari khazanah sufisme atau tasawuf.

Kata tasawuf itu sendiri,demikian antara lain menurut Al-Kalabadzi dalam Al-ta’aruf li madzhabi ahli ‘l-tasawuf (1969:6),sebenarnya berasal dari kata al-suf (semacam kain wol yang kasar). Pasalnya, dulu orang-orang yang mempraktikkan ajaran tasawuf itu mempunyai kebiasaan berpakaian wol kasar (al-suf, sehingga karenanya orangnya disebut sufi, atau pengamal tasawuf), sebagai simbol kesederhanaan (antikemewahan).

Walhasil, tasawuf itu sebenarnya dapat juga dibaca sebagai kritik dan protes atas maraknya kemewahan, kemegahan, dan hidup berlebihan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat waktu itu. Inti tasawuf adalah sikap hidup asketis, yaitu meninggalkan kelezatan keduniaan (al-imtimta’ min ladzaidzil dunya) dan menjauhi materi.

Tetapi pada abad-abad berikutnya zuhud atau asketisme itu dipahami sebagai menjauhi dunia dan keramaian,yakni menyepi dan melakukan praktek eskapisme atau alienasi diri dari keramaian dunia sambil melakukan latihan-latihan rohani (riyadhah) dalam rangka untuk menyucikan jiwa. Menurut orientalis Ignas Goldziher, sikap asketis yang ekstrem ini lahir karena perasaan bersalah dan ketakutan yang berlebihan pada siksaan di alam akhirat nanti.

Dalam tulisan ini,istilah asketisme digunakan tidak dalam pengertian menjauhi dunia (politik) secara ekstrem seperti tersebut di atas. Asketisme di sini berarti sikap hidup sederhana, bersahaja (Jawa: prasaja), tidak berlebihan,dan jauh dari sikap hidup berfoya-foya. Asketisme di sini mungkin lebih tepat semacam sikap hidup bersahaja (Jawa: prasaja, sak madyo, dan sak cukupe).

Meskipun mampu untuk hidup mewah, glamor, dan berfoya- foya, tetapi itu tidak dilakukan karena hadirnya kesadaran bahwa sebagai bangsa kita memang masih harus hidup sederhana dan prihatin. Tidak justru hidup ”beringas” tanpa peduli lingkungan sekitar. Sikap hidup beringas ini biasanya dilakukan oleh orang-orang kaya baru (Perancis: nouveau riche).

Khazanah sufisme mengajarkan sikap hidup asketis, bersahaja, sak madyo, kata pujangga Jawa kenamaan, Suryamentaram. Lantas apa yang dimaksudkan dengan asketisme politik dalam tulisan ini? Jawabnya: berpolitik secara bersahaja. Asketisme tidak berarti menjauhi politik, apalagi yang bersifat eskapistis. Sebab eskapisme politik (political escapism), apalagi apatisme politik (political apatism) atau sinisme politik (political cynism), berarti lari dari tanggung jawab.

Para politisi cukup untuk disebut asketis jika dia berpolitik secara bersahaja dan tidak berlebihan, meskipun secara otoritatif mungkin saja dia sangat berhak dan mampu untuk melakukannya. Berpolitik tidak di sembarang tempat dan waktu, tetapi berpolitik secara empan papan. Berpolitik secara asketis dapat diwujudkan dengan tidak menjadikan semua hal sebagai komoditas politik.

Kalau semua hal dipolitisasi atau dimainkan secara politik, itu namanya berpolitik sak kecekele (sekenanya)! Sebagai anggota DPR atau pimpinan partai politik, misalnya, dia bisa saja menjadikan semua hal sebagai komoditas politiknya. Politisi yang memiliki sikap hidup asketis tidak mau melakukan itu karena ingin berpolitik secara empan papan.Tidak semua hal dipolitisasi.

Pasalnya, tidak semua yang bener itu pener (tepat)! Politikus yang tidak memiliki jiwa asketis sangatlah destruktif. Ambisi politiknya menjadi sangat liar. Tidak ada yang dipikirkan dan dikerjakan kecuali bagaimana melakukan muslihat untuk menggoyang kemapanan.

Kerja politik dipahami sebagai menggoyang kemapanan perpolitikan. Setiap hari, isu yang diteriakkan adalah menggoyang kemapanan karena mengira dengan itu semua peluangnya untuk masuk kekuasaan terbuka bagi diri dan kelompoknya. Pertanyaannya kemudian, adakah politikus asketis di sekitar kita dewasa ini? Meski dibandingkan dengan masa-masa sekitar kemerdekaan jumlahnya terus merosot, tetapi melalui interaksi sehari-hari kita bisa menemukannya di sekitar kita.

Mungkin secara persentase atau proporsional sangatlah kecil, apalagi jika dibandingkan dengan kalangan ilmuwan dan intelektual, tetapi secara numerik politikus asketis masih banyak. Mereka bukan hanya ada di parlemen atau partai politik, tetapi juga di pemerintahan. Mereka bukan hanya asketis secara politis, melainkan juga hidup secara asketis. Bahkan, di tengah-tengah rekan-rekannya yang selalu bermanuver politik secara norak dan sak kecekele, mereka tetap saja bersahaja.

Nah, jika jumlah politikus yang memiliki sikap asketis ini semakin besar, baik secara angka maupun proporsi, saya rasa akan besar dampaknya bagi kebaikan bangsa dan negara kita ini: bukan hanya akan mengurangi rasa muak rakyat terhadap politik, melainkan juga meningkatkan rasa respek rakyat terhadap para pemimpinnya karena sama-sama bisa prihatin atas nasib bangsa yang kian terpuruk karena krisis panjang ini.

Dalam konteks Indonesia sekarang ini sampai beberapa tahun mendatang tampaknya sikap hidup asketis semacam itu sungguh sangat diperlukan. Apalagi bagi kalangan para politikus, pejabat negara, dan para elite pemimpin bangsa yang lain. Asketisme relevan pada mereka yang tersebut ini, sebab rakyat kebanyakan by nature memang sudah hidup asketis: menyerahkan soal negara ini kepada para pemimpinnya karena sudah hampir putus asa alias mupus.

Dengan kata lain, rakyat kebanyakan sudah asketis karena terpaksa! Pada saat di mana rakyat sudah menerimakan keadaan ini, sikap hidup asketis di kalangan elite rasanya perlu untuk diamalkan. Tentu,kalau mau! (*)

URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/asketisme-politik-para-po

Hajriyanto Y Thohari, MA
Antropolog dan Pengamat Sosial Keagamaan

Monday, July 12, 2010

ORANG BUTA MENUNTUN ORANG BUTA

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok." Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.

Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si Buta. Kali ini si Buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.


Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta tersebut. Kali ini, si Buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak. secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya.," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.


Sahabat, hari ini kita belajar tentang KEBIJAKSANAAN, KEPEDULIAN DAN KERENDAHAN HATI... Betapa gelap dan butanya kita tanpa pelita kebijaksanaan... betapa banyak orang saling bertabrakan karena keegoisan, keserakahan tanpa ada kepedulian bagi sesama... Betapa gampangnya kita menghakimi dan menyalahkan "si Penabrak", padahal mungkin saja pelita kita yang padam.. bukankah diperlukan kerendahan hati untuk minta maaf??... Ah.. seandainya di dunia ini banyak orang yang saling mendukung dan saling mengingatkan !!..
Selamat bekerja, hati-hati jangan menabrak... jaga lilin kebijaksanaan agar tidak padam...

TRIPPLE FILTER SOCRATES

Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat....

Suatu hari seorang kenalannya bertemu dengan filsuf besar itu dan berkata,

"Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?"

"Tunggu beberapa menit," Socrates menjawab.

"Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan meberikan suatu test sederhana. Ini disebut Triple Filter Test."

"Triple filter Test?"

"Benar," kata Socrates.

"Sebelum kita bicara tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya triple filter test."

Filter petama adalah

KEBENARAN. "Apakah Anda yakin sepenuhnya bahwa yang akan Anda katakan pada saya benar?"

"Tidak," jawab orang itu, "Sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu."

"Baik," kata socrates. "Jadi Anda tidak yakin bila itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua,

filter KEBAIKAN.

Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"

"Tidak, malah sebaliknya.. ."

"Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi karena masih ada sattu filter lagi,

yaitu filter KEGUNAAN.

Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?"

"Tidak, sama sekali tidak."

"Jadi," Socrates menyimpulkannya, "bila Anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar , buruk dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya kepada saya?"

Itulah mengapa Socrates adalah filsuf besar dan sangat terhormat.

Kawan-kawan, gunakan triple filter test setiap kali Anda mendengar sesuatu tentang kawan dekat atau kawan yang Anda kasihi atau siapapun termasuk sebelum Anda mau menyebarkan Gosip....

Thursday, July 8, 2010

"BOLA KACA, BOLA KARET"


Brian Dyson, mantan eksekutif Coca Cola, pernah menyampaikan pidato yang sangat menarik,

"Bayangkan hidup itu seperti pemain akrobat dgn lima bola di udara.

Anda bisa menamai bola itu dengan sebutan:

1. Pekerjaan

2. Keluarga

3. Kesehatan

4. Sahabat, dan

5. Semangat

Anda semuanya harus menjaga semua bola itu tetap di udara dan jgn sampai ada yang terjatuh.

Kalaupun situasi mengharuskan Anda melepaskan salah satu diantara lima bola tsb, lepaskanlah Pekerjaan karena pekerjaan adalah BOLA KARET.

Pada saat Anda menjatuhkannya, suatu saat ia akan melambung kembali, namun 4 bola lain seperti: Keluarga, Kesehatan, Sahabat dan Semangat adalah BOLA KACA.

Jika Anda menjatuhkannya, akibatnya bisa sangat fatal!

Brian Dyson mencoba mengajak kita hidup secara seimbang.

Pada kenyataannya, kita terlalu menjaga pekerjaan yg adalah bola karet, bahkan kita mengorbankan Keluarga, Kesehatan, Sahabat dan Semangat demi menyelamatkan bola karet tsb.

Demi uang atau pekerjaan, kita mengabaikan keluarga.

Demi meraih sukses dalam pekerjaan, kita jadi workaholic dan tidak memperhatikan Kesehatan.

Bahkan demi uang atau pekerjaan, kita rela menghancurkan hubungan dengan Sahabat yang telah kita bangun bertahun tahun lamanya.

Bukan berarti pekerjaan tidak penting, jgn sampai pekerjaan atau uang menjadi BERHALA dalam hidup kita.

Ingatlah, kalaupun kita kehilangan uang masih bisa kita cari lagi, tapi jika Keluarga sudah terjual, kemana kita membelinya lagi?

Lihat kisah Yusuf yang meski pernah dibuat miskin, habis-habisan, dan sengsara oleh kakak-kakaknya, tapi tetap tahu bahwa Keluarga lebih penting dari penderitaannya itu.

Uang hilang masih bisa dicari, tapi apa kita bisa membeli Sahabat?

Uang hilang masih bisa dicari, tapi apakah kita bisa memulihkan Kesehatan kita secara normal jika kita terkena penyakit kritis?

Jagalah prioritas hidup Anda tetap seimbang (y)

Have a Great Day...

TERUSLAH MENGEMUDI

Saat aku masih gadis, hal paling aku sukai adalah berkendaraan dari kota ke kota bersama ayahku. Biasanya aku yang mengemudi sambil mendengarkan ayahku bercerita tentang masa mudanya. Sesekali kami berhenti untuk mengunjungi saudara atau teman-teman Ayah di tempat-tempat yang kami lewati.

Pada suatu hari, seperti biasanya kami bekendaraan menuju ke suatu tempat. Dan aku yang mengemudi.

Setelah beberapa puluh kilometer, tiba-tiba awan hitam datang bersama angin kencang. Langit menjadi gelap. Kulihat beberapa kendaraan mulai menepi dan berhenti.
"Bagaimana Ayah? Kita berhenti?", aku bertanya.
"Teruslah mengemudi!", kata Ayah.

Aku tetap menjalankan mobilku. Langit makin gelap, angin bertiup makin kencang. Hujanpun turun, makin lama makin lebat. Beberapa pohon bertumbangan, bahkan ada yang diterbangkan angin. Suasana sangat menakutkan. Kulihat kendaraan-kendaraan besar juga mulai menepi dan berhenti.
"Ayah...?".
"Teruslah mengemudi!" kata Ayah sambil terus melihat ke depan.

Aku tetap mengemudi dengan bersusah payah. Hujan lebat menghalangi pandanganku sampai hanya berjarak beberapa meter saja. Anginpun mengguncang-guncangkan mobil kecilku. Aku mulai takut. Tapi aku tetap mengemudi walaupun sangat perlahan.

Setelah melewati beberapa kilometer ke depan, kurasakan hujan mulai, mereda dan angin mulai berkurang. Setelah beberapa killometer lagi, sampailah kami pada daerah yang kering dan kami melihat matahari bersinar muncul dari balik awan.

"Silakan kalau mau berhenti dan keluarlah", kata Ayah tiba-tiba.
"Kenapa sekarang?", tanyaku heran.
"Agar engkau bisa melihat dirimu seandainya engkau berhenti di tengah badai".

Aku berhenti dan keluar. Kulihat jauh di belakang sana badai masih berlangsung. Aku membayangkan mereka yang terjebak di sana dan berdo'a, semoga mereka selamat.

Dan aku mengerti bahwa jangan pernah berhenti di tengah badai karena akan terjebak dalam ketidakpastian dan ketakutan akan kapan badai akan berakhir serta apa yang akan terjadi selanjutnya. Selama masih mungkin, tetaplah berjalan walaupun sangat perlahan, menuju batas matahari akan muncul kembali. Kecuali badai benar-benar menghentikan langkahku dan tidak memungkinkan untuk dapat bergerak lagi.