Tuesday, September 21, 2010

PONSEL SEBABKAN TINNITUS?


Ponsel atau handphone kini seakan-akan sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Di berbagai tempat, baik di kota maupun di pedesaan, kita dengan mudah bisa menemukan orang membawa ponsel. Mulai dari anak kecil sampai orang tua.

Disamping manfaatnya, perlu juga diwaspadai efek samping dari ponsel. Penggunaan ponsel secara teratur selama empat tahun dapat meningkatkan resiko dua kali berkembangnya tinnitus kronis (suara berdengung terus-menerus/mendesing di telinga). Dan ini bisa sangat mengganggu.

Tinnitus bukanlah penyakit. Tinnitus adalah gejala yang dihasilkan dari berbagai penyebab yang mendasari. Penyebab umumnya meliputi infeksi telinga, masuknya benda asing atau lilin di telinga, alergi hidung yang mendorong cairan lilin telinga dan cedera.

Kasus tinnitus kronis terus mengalami peningkatan, saat ini prevalensinya di negara maju adalah antara 10 – 15%. Ada beberapa faktor yang diduga memicu timbulnya tinnitus ini, seperti yang telah disebutkan di atas.

Walaupun belum ada bukti kuat untuk saat ini, sebuah studi kecil yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Medical University of Vienna, Austria, menunjukkan bahwa pasien yang telah menggunakan ponsel sebelum timbulnya tinnitus, 37% lebih besar kemungkinannya mengalami kondisi tersebut (tinnitus kronik) dibandingkan dengan kelompok pembanding. Mereka yang menggunakan ponsel rata-rata sepuluh menit sehari, 71% lebih besar kemungkinannya mengalami tinnitus kronik. Sementara yang menggunakan ponsel di kedua telinga selama empat tahun atau lebih, beresiko mengalami tinnitus kronik dua kali lipat.

Meskipun penelitian ini dinilai masih jauh dari tuntas dan membutuhkan penelitian lebih lanjut, tapi hasil sementara ini ada perlunya untuk membatasi intensitas penggunaan ponsel. Misalnya, dengan memperpendek durasi penggunaannya. Hal ini karena menelpon selama dua menit saja diketahui adanya perubahan aktivitas elektrik alami otak sampai satu jam kemudian. Pembatasan terutama ditujukan pada anak-anak. Pengaruh dapat menembus jauh lebih dalam karena tengkorak mereka masih berkembang.

Sumber : Ethical Digest, September 2010

1 comment: